Tentang Menjadi Wartawan

Mungkin beberapa dari pembaca blog ini tau kalau dulu aku pernah keren, alias pernah jadi wartawan selama kurang lebih 3 tahun. Kenapa berhenti? Itu akan jadi cerita panjang di postingan lainnya. Yang mau aku bahas hari ini adalah, hal yang aku pelajari selama liputan yang aku rasa mungkin worth untuk dishare, karena masih pantas untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, terlepas dari pekerjaan yang kalian jalani.
1. Tepat waktu
time-425811_1920
Tepat waktu di Jakarta susah yah, makanya aku hobinya datang kecepetan. Ke bandara aja nih, bisa kadang 3 jam lebih cepat dari waktu cek-in hahaha. Selama liputan, aku nggak pernah sekalipun terlambat karena bagi narasumber, kita yang butuh mereka dan mereka (technically) gak butuh kita, apalagi acara-acara pertemuan internasional pemerintahan di istana, telat dikit – gagal masuk.
2. Kejujuran
Hal lain yang sampai hari ini berusaha aku jaga adalah kejujuran, yakni bekerja dengan jujur dan sebisa mungkin selalu berkata jujur walaupun kadang perkataan aku bisa menyinggung orang lain apalagi kalau mood  lagi buruk. Makanya temen aku sedikit 🙂 Di kantor pun sekarang, terlepas dari budaya atasan orang Asia yang ‘selalu cari aman’ dan ‘anti konfrontasi’; aku sebisa mungkin selalu mengutarakan pendapat aku karena bagaimanapun harus ada yang membuka mata mereka kalau memang ada yang salah.
3. Bersyukur
Sekarang kerja kantoran mah isinya rumput tetangga selalu lebih hijau. Kawan A baru beli gadget, kawan B baru jalan-jalan ke Disneyland, dan seterusnya kalau mau iri mah gak abis-abis.
Dulu sewaktu jadi wartawan kalau lagi cari bahan tulisan feature atau meliput yang berkaitan dengan isu HAM dan lingkungan — selalu diingatkan bahwa buanyaak orang yang hidupnya lebih berat dari hidup aku.
Aku pernah ngikutin keluarga pemulung yang hidup sehari-harinya di gerobak, atau meliput orang-orang yang dipasung di desa Banten, orang-orang Papua yang haknya selalu ditindas, bahkan sewaktu kuliah aku pernah mewawancara seorang ibu yang kehilangan anaknya ketika tugas di lapangan sebagai pemadam kebakaran – itu sedih banget.
Jadi dulu (bahkan sekarang) walaupun suka sedih kalo inget nasib sebagai anak yatim piatu sejak usia 21, tapi aku masih diberi kesehatan untuk mampu bekerja dan masih diberi atap untuk berteduh dan berlindung – serta makanan (dan cemilan) yang cukup, hidup aku udah enak banget.
4. Menjaga lingkungan
Gara-gara suka ngobrol sama mba Noni soal hidup go green dan isu-isu bumi lainnya, aku diingetin lagi soal liputan-liputan aku jaman dulu yang berhubungan dengan lingkungan. Hutan-hutan lindung yang sekarang jadi perkebunan kelapa sawit, masalah air bersih warga yang masih berada di tangan swasta, dan masalah sampah terutama di daerah pariwisata.
.facebook_1525140053187.jpg

Foto kebun sawit di Kalimantan Timur, yang bikin aku tersesat. Aku mengambil foto ini dari tower yang cukup rendah, bayangin kalau towernya lebih tinggi… sejauh mana kebun ini berhenti ya?

2 liputan lingkungan paling berkesan dan paling bikin sedih: meliput sampah ke TPA di Bali, dan tersesat selama kurang lebih 3 jam di kebun sawit — saking luasnya kebun sawit di Kalimantan 😦
.facebook_1525140097168.jpg

Kukuk, pada tahun 2012 usianya masih beberapa bulan. Diambil dan dipelihara oleh pekerja hutan kayu, ketika bayi Kukuk kehilangan induknya yang diduga mati dibunuh petugas sawit.

5. Cover both sides
Apapun ceritanya, apapun isunya, bahkan gosip jelek dari temen sendiri pun… semua harus cover both side. Jadinya selain susah percaya sama orang, tapi bikin bijak juga. Sebelum gegabah mengambil keputusan — bisa lihat masalah tersebut dari berbagai sudut. Mana yang bijak mana yang salah (karena kadang bener aja gak cukup).

2 thoughts on “Tentang Menjadi Wartawan

  1. Wow Stella, aku ga tau kamu pernah jadi wartawan. Selalu penasaran dan kagum sama detail2 keseharian wartawan, pasti seru banget ya walaupun kebayang capek dan susahnya. Mau dong diceritain pengalamannya kalo ada waktu 😀

  2. Aku kangen jadi wartawan, dulu sempet jadi wartawan di Jawa Pos di Surabaya setahun sebelum end up di The Jakarta Post di Jakarta selama 5 tahun. Walopun dulu senep, karna kalau pas ada isu sampe hampir seharian kerja, deadline malam hari, tapi setelah kerja kantoran disini kangen masa2 kejar berita dulu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s