Tentang Ayah

 

Hari ini ayahku (seharusnya) berulangtahun, yang keenampuluh sembilan. Setiap tahun aku selalu membelikan beliau hadiah yang walaupun kecil, tapi bisa membuat tersenyum. Ah… aku rindu senyumnya. Lima tahun sudah, di setiap hari ini, aku hanya bisa bersyukur karena masih diberikan kesempatan untuk bernapas dan bahagia.

Pada ulangtahun ayah yang terakhir, aku membuatkan beliau sertifikat ‘Ayah Terbaik’ yang kubingkai dalam pigura putih manis. Beliau hanya tertawa, sambil terus memandang sertifikat tersebut, lalu aku ingat ia berkata, ‘Nanti mama di surga, cemburu kamu kasih papa beginian, mama kok gak dapet’

Sedikit cerita tentang ayah. Ayah adalah pribadi yang romantis. Ketika aku harus berpisah dengannya untuk hidup ngekos di Jakarta, ada buku catatan kecil di mejanya; panduan mengetik dan membalas pesan singkat. Ketika sudah biasa ber-SMS, setiap malam sebelum ia tidur, ada pesan yang ia kirimkan, singkat, tapi manis: ‘Met malam, met istirahat’. Aku tidak pernah menemui ayah lain yang mengirimkan pesan serupa.

Setiap musim ujian tiba, ia akan meminta jadwal ujian. ‘Untuk apa?’, ‘Untuk pegangan’, katanya. Ternyata, jadwal ujian dipakainya untuk berdoa. Semisal, hari ini aku ujian Strategi Periklanan, maka doanya ke Tuhan akan mengikutsertakan mata kuliah yang diuji. Begitu pun isi SMS-nya, ‘Met pagi, met ujian Strategi Periklanan, semangat pasti bisa’.

263425_1974718400034_239628_n

Ketika ayah meninggal, aku bersama kawan-kawan terdekat membereskan isi rumah kontrakan yang harus dikosongkan. Ayahku memang terkenal sebagai tukang catat, semua dicatatnya. Tangisku pecah seketika aku menemukan sebuah buku tulis, yang ternyata isinya adalah catatan keseharian aku ketika magang di Jakarta Globe. Semacam buku harian pribadiku, yang ditulis dari sudut pandang ayah berdasarkan percakapan kami di telepon.

Aku tahu banyak sekali harapan yang ia letakkan di pundakku. Beliau yang membelikan kamera pertamaku, beliau yang sedari kecil menemaniku jalan-jalan di hari Minggu dan membelikanku semua buku-buku/kamus supaya aku pintar berbahasa Inggris. 7 tahun berdua bersama ayah adalah kenangan paling manis dalam hidupku.

Dear ayah (dan ibu), semoga jika kalian melihatku dari surga, masih ada sedikit bangga dan bahagia. Selamat ulang tahun, ayah.

 

2 thoughts on “Tentang Ayah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s